Ketua PPPDKB Harapkan Agama dan Adat Bisa Sejalan

Editor: Asmuni

Ketua Umum Persekutuan Pendeta dan Penginjil Dayak Kalimantan Barat (PPPDKB), Pendeta Filemon Adi Sukardi
PONTIANAK, BorneoPost.id - Ketua Umum Persekutuan Pendeta dan Penginjil Dayak Kalimantan Barat (PPPDKB), Pendeta Filemon Adi Sukardi, berharap, agar agama dan adat bisa sejalan di tengah masyarakat, khusunya masyarakat dayak.

Hal itu menyikapi kerap terjadinya kesalahpahaman di masyarakat, antara kegiatan adat dan agama, sehingga berujung pada sanksi adat terhadap tokoh agama.

Menurutnya, sebagian besar orang berpandangan bahwa agama itu bukan merupakan bagian dari jati diri orang dayak, karena itu sesuatu yang diinport dikatakan itu budaya karena dalam agama itu benar-benar banyak terdapat budaya-budaya barat yang coba dipaksanakan ketika seorang dayak memeluk Kristen seperti dirinya sebagai pendeta dari suku dayak.

Sementara, katanya, ada lagi yang berpandangan ketika orang menjadi orang Kristen pasti otomatis itu membuang, “itu pandangan yang sangat radikal katanya membuang adat dayak, tidak perlu lagi melaksanakan hukum adat, tradisi adat, budaya-budaya adat dayak, bagi saya itu sebenarnya harus saya sampaikan, harus saya beritahu, bahwa tidak semuanya,” kata Ketua PPPDKB, Pendeta Filemon Adi Sukardi, kepada www.suaraborneo.id, Kamis (20/01/2022) sore.

Ia mengatakan bahwa saat ini PPPDKB sedang berjuang bagimana adat dengan agama berjalan sama-sama. Dalam adat dayak ada banyak hal yang sangat mirip apa yang disampaikan di Alkitab dan yang disampaikan dalam inti ajaran kekristenan.

Ia menegaskan, bahwa sebagai pendeta dan penginjil pihaknya tidak anti dengan yang namanya adat. “Ketika ada orang mengatakan adat dan agama itu bertentangan, bagi saya sangat salah kaprah. Jadi saya ingin sampaikan kepada kita semua bahwa adat dan agama itu harus sejalan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, bagaimana agama Kristen menyatu dengan budaya-budaya dayak. Memang dalam adat itu ada namanya ritual, karena ritual itu bersentuhan kepada agama. “Jadi agama Kristen itu juga ada ritualnya. Jadi kalau adat orang dayak ada ritualnya pasti,” tuturnya.

Kalau saat ini pandangan terhadap agama dan adat belum sejalan, Filemon mengajak agar DAD, pendeta dan penginjil dayak bisa berkumpul bersama-sama, berdialog bersama-sama mencari jalan tengah, sehingga tidak ada lagi pendeta yang kena hukum adat seperti halnya yang pernah terjadi di salah satu daerah di Kalbar beberapa waktu lalu.

“Saya mengimbau kepada para pendeta, baik itu dari suku dayak maupun bukan suku dayak untuk tidak menghakimi kearifan lokal yang mungkin menurutnya salah, namun menurut penduduk lokal belum tentu hal itu salah,” imbaunya.

Sebagai Ketua Umum PPPDKB, ia meminta agar pendeta dan penginjil tidak menghakimi, dan jangan pernah memposting segala sesuatu jika tidak diketahui dan dipahami secara utuh, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. “Jadi harus berhati-hati juga,” ingatnya.

Begitu juga dengan adat, meski seseorang bisa saja bersalah, namun tidak harus langsung divonis, melainkan bisa mengutamakan musyawarah mencari jalan keluar, karena mungkin saja kesalahan yang dilakukan karena tidak tahu, “kecuali bagi pelanggar yang sudah melakukan kesalahan berulang-ulang,” pungkasnya. (TN)

Share:
Komentar

Berita Terkini